Nelayan Selayar Rentan Menjadi Korban Bom Ikan

6/2/2006 8:25 WIB

Dua Warga Pulau Tambolongan yang Kena Bom Ikan Akan Dirujuk ke RS Pelamonia Makassar

, Arsil Ichsan – Selayar, Dua dari tiga orang warga Pulau Tambolongan Kabupaten Selayar yang terkena bom ikan menurut rencana hari ini akan dirujuk ke RS Pelamonia Makassar.

Keduanya, yakni Suama dan Juma`ang saat ini masih dalam perawatan intensif tim medis di RS Kabupaten Selayar. Mereka mengalami luka pada bagian kepala dan luka di bagian matanya.

Sementara itu sebanyak 33 warga Pulau Tambolongan yang saat ini mendekam di Rutan Selayar masih menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik terkait kasus dugaan pembunuhan dan pengerusakan kapal milik Firman, setelah sebelumnya Firman ditemukan melakukan pengemboman ikan di perairan Pulau Tambolongan.

Menurut sejumlah warga, Firman tewas akibat terkena bomnya sendiri ketika berusaha melarikan diri dari kejaran warga Pulau Tambolongan yang terkenal anti kegiatan destructive fishing.

Ketika terdesak, Firman kemudian melemparkan bom ikan ke arah warga Pulau Tambolongan yang mengejarnya. Bom yang dilempar Firman kemudian mengenai dirinya sendiri hingga dia tewas.

Hal tersebut disampaikan sejumlah warga ketika bertemu dengan anggota DPR RI Tamsil Linrung di Rutan Selayar, Minggu (5/2) kemarin petang.

Akibat tewasnya Firman, petugas Kepolisian Resort Selayar kemudian melakukan penyergapan dan menangkap 38 warga Tambolongan, lima diantaranya anak-anak. Setelah menjalani pemeriksaan, ke-33 warga tersebut dinyatakan sebagai tersangka. (doa)

Iklan

Aktivitas Bom dan Bius Ikan Di Kawasan Selayar Perlu Penanganan Bak Teroris

Suara menggelegar dari arah laut dikawasan nasional Takabonerate Kabupaten Kepulauan Selayar hingga saat ini masih terus terlaksana oleh mereka yang kemudian di beri merek pelaku Illegal Fishing. Malah saat ini bukan saja di kawasan terlindungi tersebut namun telah merambah ke wilayah kepulauan lainnya. Belum ada pengawas dan belum ada sistem yang manjur dalam mengatasi kegiatan para nelayan ini hingga tuntas dan berhenti.
Dalam teori laporan para pengawas yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah pertahun, mungkin menuliskan bahwa nelayan Lokal Selayar saat ini telah berhenti dan mulai menyadari akibat dari menangkap ikan dengan bom dan bius, namun grafik kegiatan illegal fishing tidak menurun karena pelaku ternyata berasal dari luar wilayah Kepulauan Selayar, ini laporan yang mungkin saat ini dapat kita ketahui dan upaya yang sementara dilakukan adalah melaksanakan peningkatan aktivitas patroli yang kemudian disusul dengan bundel proposal pengadaan barangdan jasa terhadap akibat peningkatan patroli laut yang sangat membutuhkan infrastruktur boat and satelite gps sebagai kelengkapan personil dalam pelaksanaan patroli. Bila ini alasan maka tentu saja sangatlah beralasan bagi pemerintah untuk menerimanya, dan bila kemudian fasilitas tersebut kelak sangat bermanfaat bagi perkembangan kawasan dibidang lainnya. Misalnya pariwisata dan tourisme ke kawasan tersebut.
Mendengar dan menonton media-massa nasional di layar kaca terkait peledakan bom disejumlah tempat telah menjadi penyebab hilangnya nyawa manusia yang saat ini sangat diburu oleh negara. Malah negara kemudian membentuk tim khusus dalam penanganannya yang pada kesimpulan sementara,bahwa dentuman bom adalah momok yang termasuk dalam ciri dan kegiatan yang kerap dilakukan oleh mereka yang berpraktek terorisme, dan yang paling penting adalah bahwa praktek terorismelah yang paling diburu oleh negara saat ini dengan segala kemampuan tentunya. Lantas bagaimana dengan dentuman bom yang ada di kawasan nasional Takabonerate Selayar Sulawesi-selatan ? Apakah juga masuk dalam katagori praktek terorisme dan menjadi momok menakutkan yang juga diburu oleh negara ? Ataukah Perlu ada pembentukan Tim Khusus dalam penanganannya ? entahlah”.
Rate This