KPK Benarkan Temuan Narkotika Di Ruang Kerja Akil

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Johan Budi SP, membenarkan soal penemuan barang yang diduga narkoba dan obat terlarang saat penggeledahan ruangan kerja Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar.

Penggeledahan itu disaksikan juga oleh pejabat dan petugas MK. “Dalam proses penggeledahan itu, yang disaksikan sejumlah pihak MK, di dalam ruangan itu memang ditemukan barang yang diduga narkoba atau obat terlarang,” jelasnya, Jumat (4/10).

Namun demikian, Johan mengaku belum dapat memberikan keterangan mengenai jenis dari obat terlarang tersebut. “Mengenai jenisnya apa saya tidak diinfokan penyidik. Jadi itu di luar objek dalam penanganan perkara KPK,” katanya.

Oleh sebab itu Johan mengatakan, KPK akan menyerahkan sepenuhnya kepada bagian pengamanan MK. KPK menggeledah ruang kerja Akil untuk mencari barang bukti baru tindakan suap yang dia terima.

“Karena kita temukan barang yang tidak dalam objek penyidikan, maka penyidik menyerahkan itu kepada Koordinator Kepala Pengamanan MK Kompol Edi Suwitno dengan berita acara selanjutnya tergantung pihak MK,” ujarnya.

Seperti diketahui, penyidik KPK telah melakukan penggeledahan di ruang kerja Ketua MK Akil Mochtar kemarin, Kamis (3/10). Berdasarkan informasi yang dihimpun merdeka.com, di ruang kerja Akil ditemukan 4 linting ganja dan 2 butir ekstasi.

Barang-barang haram itu ditemukan di dalam laci meja kerja Akil. Ditemukan pula obat kuat. Sebelumnya, Akil ditangkap di rumah dinasnya Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan atas dugaan kasus suap Pilkada Gunung Mas. (@)

 

Iklan

Terkait Penangkapan Akil, Hakim MK OLeh KPK

ketua-MK-300x155 Hakim MK Mohon Maaf Kepada Masyarakat

Dengan ditangkapnya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu malam (02/10/2013) terkait dugaan kasus suap, Mahkamah Konstitusi (MK) langsung terguncang.

Dengan kejadian tersebut, Harjono, salah satu hakim MK langsung meminta maaf kepada masyarakat terkait kasus yang menjerat sang Ketua MK itu. “Mohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat. Tapi mohon, please berikan kepercayaan kepada kita,” kata Harjono kepada wartawan di Kantor MK, di Jakarta Pusat, Kamis (3/10) dini hari.

Namun demikian, Harjono masih berharap Akil Mochtar tidak menerima suap sebagaimana kabar yang beredar. “Saya tidak percaya Akil melakukan ini,” tegasnya.

Penangkapan Akil itu, menurut Harjono sudah menyangkut masalah institusi. “Terutama ini masalah kepercayaan. Dan sekarang memikirkan bagaimana menjaga kepercayaan masyarakat,” terangnya.

Selain di dalam negeri, lanjut Harjono, kredibilitas MK sudah dikenal sampai ke luar negeri, sehingga dengan ditangkapnya Ketua MK, maka kasus ini akan menjadi sorotan hingga ke luar negeri.
“Ini bukan hanya masalah dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Masalahnya MK sudah dikenal di luar negeri,” ujarnya.

Akil ditangkap di rumahnya di kompleks pejabat tinggi, Widya Chandra, bersama anggota Komisi II DPR Chairunnisa dan pengusaha berinisial CN. Dari penangkapan, KPK menemukan uang dollar Singapura (SGD) yang nilainya melebihi Rp 2 miliar.

Setelah menangkap ketiganya, KPK kemudian menciduk lagi dua orang di salah satu hotel di Jakarta Pusat. Yakni, Bupati Gunung Mas, Kalimantan Tengah, Hamit Bintih, serta seorang dari kalangan swasta berinisial DH. (@)