Penangkapan Nelayan Asal Bulukumba dan Sinjai Di Perairan Kep.Selayar Dinilai Berlebihan”

Sudah 10 hari ini kami berada didalam kolam dermaga rauf rahman setelah kami ditangkap oleh petugas gabungan Jagawana,Kejaksaan dan Kepolisian Selayar di sekitar perairan pulau Tinabo Kecamatan Takabonerate Kep.Selayar . Pada saat ditangkap dan diperiksa kami sementara memancing ikan katombong yang memang lagi musim Pak, dan kami dimintai surat surat perahu untuk berlayar dan izin penangkapan ikan tapi kami tidak memilikinya, sehingga kami kemudian digiring ke Benteng Kep.Selayar dan ditambatkan didalam kolam Dermaga Rauf Rahman sejak 10 hari lau, demikian dijelaskan oleh Rujja”(samaran) salah seorang awak perahu nelayan kepada salah seorang aktivis lsm yang kemudian melanjutkan ke Admin ini. Pada kesimpulan perbincangan mereka yang muncul adalah iba dan kasihan terhadap para nelayan yang terpaksa tidak melakukan aktifitasnya selama 10 hari ini. Ditambah lagi dengan adanya suara memelas dengan menyebutkan bahwa saya sebenarnya tidak takut ji Pak karena memang saya tidak melakukan aktifitas illegal ji, cuma yg menjadikan saya merasa berat beban adalah keluarga yang saya tinggalkan tanpa bisa memastikan apakah mereka bisa makanji atau …..tanpa menyambung lagi kalimat yang meluncur dari bibirnya.

Dari 3 buah perahu nelayan tradisional ini 2 diantaranya adalah nelayan asal Kabupaten Sinjai, sementara 1 buah lainnya adalah nelayan asal Kajang Kabupaten Bulukumba . Dari informasi yang berhasil dihimpun bahwa para nelayan ini akan disidang pada hari Senin 23 September 2013 namun tidak diperoleh informasi dimanakah akan dilaksanakan persidangan. Selanjutnya muncul pertanyaan apakah mereka telah melanggar aturan dengan ancaman sangsi pidana ? hingga harus melalui persidangan di Pengadilan Negeri Selayar. Ataukah kata Sidang yang dimaksudkan oleh mereka adalah pemberian nasehat dan arahan sekiranya mereka bisa melengkapi perizinan sesuai aturan yang diterapkan diperairan laut Selayar. Namun bila menilik bahwa mereka telah tertahan di pelabuhan Rauf Rahman selama 10 hari ini berarti mereka berstatus tersangka. Tapi bila status para nelayan tradisional ini adalah tersangka, mengapa mereka tidak ditahan di Rumah tahanan negara. Bukankah kewenangan penyidik adalah 2 kali 24 jam untuk waktu penyelidikan terhadap tersangka, dan selebihnya harus ada surat perintah penahanan ?
Lalu dengan kesalahan tidak memiliki dan tidak memperlihatkan kelengakapan administrasi perahu mereka dan administrasi perizinan untuk memancing ikan katombong di perairan Selayar lalu mereka dinyatakan bersalah dengan sangsi pidana yang membuat mereka dan perahunya terpaksa ditambat di kolam pelabuhan Benteng. Sementara barang bukti kegiatan illegal fishing yang bisa menjerat mereka dengan sangsi pidana juga belum diketahui admin apakah ada atau tidak ada. tidak memiliki dokudiinformasikan tidak ada. Memang ada ikan namun ikan katombong saja ujarnya.

Mengomentari hal ini, H.Patta Rapi sebagai seorang pentolan nelayan mengaku sangat prihatin dan menuding mereka yang melakukan penangkapan tidaklah berperasaan serta tidak bisa merasakan kesusahan para nelayan yang harus diketahui bahwa merekasangat takut berhadapan dengan petugas. Ketiaktahuan akibat latar pendidikanlah yang membuat banyak para nelayan tidak memperhatikan kelengkapan perizinan dan surat surat administrasi perahu mereka. Selain itu perlu digaris bawahi bahwa perahu mereka itu ukuranya sangatlah kecil dengan maksimum panjang hanya 9 hingga 10 meter saja. Malah yang ada di kolam dermaga itu dibawah 10 meteran. Kasihan kan bila kemudian mereka dibuatkan keslahan dengan menunjuk kelengkapan administrasi perahu kecil tradisonal dan izin memancing di perairan laut Takabonerate. H.Patta Rapi kemudian mengucapkan pepatah Gajah DiDepan Mata Tidak Tampak sementara Semut Diseberang lautan terlihat jelas. Ini pas diperuntukkan kepada para oknum-oknum pejabat penagk hukum kita di Selayar ini dan tidak usah saya beberkan hal-hal yang lebih penting ditindaki oleh penegak hukum bila dibandingkan dengan kasus kesalahan para nelayan yang tidak dilengkap administrasinya ini. Ini sudah berlebihan dan saya sangat prihatin dengan hal ini tegas H.Patta Rapi dengan mengucapkan kalimat penutup yang pada pertengahn kalimanya sempat menyebutkan adanya kasus dugaan pungli terhadap para nelayan ikan hidup dan ikan mati diwilayah kepulauan oleh oknum jagawana yang hingga saat ini belum ditindaklanjuti secara hukum. kalau bapak tidak percaya silahkan saja ke pulau Kayuadi, Tarupa, Latondu,Karumpa,Jinato, Pasitallu dan lain-lainnya yang kita kenal ada pemain dan pelaku kegiatan Illegal Fishing tapi tak tersentuh. termasuk bagaimana pengawasan distribusi BBM yang terkesan terjadi pembiaran petugas untuk pengusaha tertentu. Belum lagi penggunaan anggaran daepeta selayarrah untuk kegiatan patroli yang diduga tidak sesuai dengan besaran pengeluaran yang sebenarnya. Mulai dari biaya operasional , honor dan tambahan anggaran lainnya. Inikan lebih penting daripada harus menyiksa para nelayan tanpa bekerja mencari nafkah hanya karena kelengkapan administrasi perahu dan pemancingannya. Lalu mana para tersangka yang beberapa saat lalu ditahan di Mapolres Selayar dengan barang bukti ikan napoleon dan keramba. tesangkanya dari Rajuni, selain itu mana pula tersangka yang barang buktinya adalah kompressor dan perahu berasal dari Takabonerate. Mungkin kasusnya bisa lanjut namun yang sangat mengherankan karena mereka kemudian bisa bebas dari tahanan yang paling ditakuti nelayan. dan banyak lagi yang perlu dipertanyakan bila kemudian pihak berwajib tidak serta merta melakukan peneguran terhadap para petugas Jagawana yang dinilai semberono dalam melakukan penangkapan terhadap nelayan tanpa mempelajari prosudure penangkapan dan penahanan yang sesuai dengan hukum acara pidana. Dankesembronoan inilah yang kerap membuat pihak penyidik Kepolisian Selayar sering dilema antara membela petugas Jagawana yang merupakan binaan dan mitranya dibidang penyidikan dan ketentuan hukum acara yang telah dilanggar sebenarnya. Misalnya karena jarak dan waktu tempuh serta waktu pemeriksaan oleh penyidik ppns Jagawana yang telah melebihi batas waktu hukum acara pidana dalam menetapkan sebuah kasus pidana.

Dari Informasi yang beredar tentang sidang dan penyelesaian kasus para nelayan tradisional yang tertahan sejak 10 hari ini di Selayar telah diurus oleh seorang pengusaha perikanan. kemungkinan besar mereka akan dilepaskan.

Admin berupaya menghubungi beberapa pihak untuk kelengkapan dan keseimbangan release ini. Dan hasilnya sementara dalam penyelesaian admin hingga dipublisnya release pertama ini. Ikuti release selanjunya.

Kabarnya kasus ini telah diurus oleh seorang bos ikan dikota Benteng.

2 responses to “Penangkapan Nelayan Asal Bulukumba dan Sinjai Di Perairan Kep.Selayar Dinilai Berlebihan”