Wajah PKS Kini Sudah Buruk, Siapa Masih Percaya?

Pengamat: PKS Kini Bermuka Dua

HMINEWS – Konflik internal serta kasus-kasus yang mendera para kadernya, membuat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dinilai tak ubahnya seperti partai-partai yang lain. Yaitu memiliki dua wajah sekaligus.

“Kalau PKS tadinya punya satu wajah, partai yang peduli, bersih, dan profesional, sekarang ada tambahan lagi, ada wajah buruknya,” ujar pengamat politik Universitas Paramadina M Ikhsan Tualeka di Jakarta, Minggu (20/3/2011).

Alhasil, sambung dia, kini PKS nyaris tak ada bedanya dengan sejumlah partai lain yang memiliki dua wajah. Golkar dengan wajah orde baru dan wajah reformasi, PDIP dengan sejarah PDI-nya serta kasus serupa yang dialami partai-partai lain. Situasi ini tentu menjadi persoalan tersendiri bagi para elite PKS.

“Tinggal mereka mampu memoles wajah buruk yang ada menjadi baik kembali atau malah menjadi lebih bopeng,” ungkap dia.

Ihsan menjelaskan, konflik memang akan senantiasa mewarnai dinamika perjalanan partai politik. Sehingga diperlukan mekanisme internal yang memadai untuk menemukan resolusi konflik.

Konflik diinternal partai, menurut dia, biasanya dipicu karena tidak meratanya pembagian kue kekuasaan atau pembagian peran. Selain itu juga karena ada kekecewaan dari pihak-pihak tertentu yang sejatinya memiliki andil besar dalam pendirian partai.

“Belakangan ada fenomena baru baik di PKB maupun PKS, karena yang menggugat adalah orang-orang lama yang punya peran besar. Secara personal mereka melihat ada yang tidak tuntas dalam konsepsi aktivitas kepartaian,” ungkapnya.

Yang jelas, lanjut dia, adanya konflik internal di partai diakibatkan karena tidak adanya mekanisme penyelesaian konflik yang komprehensif. Saluran-saluran kritik sudah tidak dapat digunakan, sehingga para pihak lebih memilih cara-cara di luar mekanisme kepartaian, salah satunya dengan menggunakan media.

“Ini memang bisa berakibat kontraproduktif, kritik tersampaikan tapi citra partai tercoreng. Padahal di PKS tokoh-tokoh partai terkenal tidak begitu doyan kekuasaan struktural. Itu ditunjukkan dalam kongres partai berjenjang yang nyaris tak kedengaran ada konflik,” tandasnya.[]pz/ian

Komentar ditutup.