Takabonerate Adalah Nama Keramat Dalam Hitungan Kerugian Negara

Perjalanan panjang untuk memperkenalkan nama Takabonerate bukanlah sebuah hal yang mudah, namun kenapa  hasil dari sebuah perjuangan tersebut menjadi ajang mendapatkan keuntungan semata oleh para pengelola daerah dan siapa saja yang melibatbkan diri dalam penamaan Takabonerate.  Nama Takabonerate di abadikan pada sejumlah benda yang merupakan asset daerah kabupaten kepulauan  selayar dan di biayai oleh negara termasuk sejumlah kegiatan menggunakan nama Takabonerate. Sayang sekali ketika nama ini di sematkan pertama kalinya pada sebuah kapal feri  yang di beli oleh pemerintah kabupaten selayar tahun 2003 akhirnya menuai badai. Nama KMF Takabonerate pada kapal LCT Manumbar sembilan yang di sulap  menjadi sebuah kapal feri telah membobol apbdselayar hingga tahun 2010 hingga belasan miliar rupiah. Kapal ioni juga telah menyeret mantan ketua Dprd Selayar Ince Langke  dan Mantan Bupati Selayar Akib Patta sebagai terdakwa serta sejumlah nama lainnya diantaranya 9 anggota Dprd Selayar periode 1999 – 2004 serta 3 pejabat pemda dan seorang pengusaha. Semua anggotadewan kemudian bebas, semua pejabat juga bebas termasuk mantan ketua Dprd dan Mantan Bupati yang menjadi terdakwa,  kelaupun mantan Bupati SelayarAkib Patta sempat meringkuk di tahanan gunung sari makassar namun semuanya sudah terlupakan asalkan kasus ini tidak lagi mencuat. Persetan dengan kerugian daerah dan lupakan para kelompok pejabat negara sertawakil rakyat ini telah menerima premi pembelianya. Yang penting kembalikan kapal tersebut, ujar Arsil Ihsan , ketua FPS kepada sejumlah awak media. lalu mana kapalnya ? menurut ketua FPS ini, bahwa kapal tersebut telah menjadi barang bukti di kejaksaan tinggi Sulsel saat mantan Bupati Selayar menjadi terdakwa dalam perkara Kasus Korupsi di gelar di PN.Makasar.  Kemudian semuanya hilang, kabur dan terhembus informasi bahwa kapal tersebut telah di pinjam pakaikan oleh kejati sulsel kepada seorang pengusaha dan informasi lainnya bahwa kapa tersebut telah di operasikan oleh oknum pejabat kejati sulsel. Sampai saat ini kapal tersebut belum kembali ke Selayar sebagai pemilik sah atas penggunaan dana apbd selayar TA 2002 dan 2003 senilai 5 Miliar Rupiah. Belum lagi beban utang atas jaminan APBD melalui persetujuan Dewan yang kemudian terbayarkan hingga tahun 2009 .  

Selanjutnya pada tahun 2009 hingga 2010 dan 2011, kemudian muncul lagi nama kapal Takabonerate 2, yang dioperasikan oleh dinas perhubungan kabupaten kepulauan selayar. Kapal Takabonerate2 adalah tipe kapal cepat dengan mesin boat fast tempel berukuran besar. Awelnya untuk kegiatan pengawasan laut dinas perhubungan namun kemudian nama dan kegiatan dimaksud kemudian mulai tercium bau bau tak sedap dari kwalitas dan harganya. Belum lagi saat ini kapal tersebut malah tidak lagi pernah terlihat. Lalu berapa harganya dan bagaimana sebenarnya proses lelang dalam pengadaanya ?  Te;ah sesuaikah ? Persetan dengan semuanya yang penting hal ini jangan mencuat.

bagaimana pula dengan Takabonerate Islands Ekspeditions yang saat ini kembali di dengungkan untuk dilaksanakan periode ke 3. malah semuanya sesumbar bahwa TIE3 adalah ajang mencari rekor. Mungkin rekor terbanyak  keuntungan dari hasil kerja para pelaksana atau  rekor terbanyak mendapatkan fee dari kegiatan ini ? “

Pada pelaksanaan TIE2 lalu, sejumlah anggaran telah di gelontorkan ke kantong para penentu kebijakan dalam pelaksanaannya. Tapi semua pertanggungjawabannya telah selesai dan sangat rapi. Apalagi kegiatan ini di back up pemerintah berwajib alias mereka yang berwajib memeriksa zkebobolan keuangan negara.  Pokoknya semua terlibat termasuk TNI AL Armada Makassar  yang banyak mendapatkan bayaran pada penyiapan armada lautnya dalam melayani tamu tamu pejabat yang datang termasuk penyelam yang di buat sedemikian rupa agar semuanya berjalan lancar dan tidak tercium bau bau mark up.  Belum  lagi biaya iklan oleh pak  Gubernur di metro tv serta biaya bahan bakar heli kopter buat beliau. Tapi sudahlah , persetan dengan semuanya , yang penting pak Komandan di pusat tidak tahu.

Bila dikalkulasi , maka hasil penamaan takabonerate pada sejumlah barang dan kegiatan telah menelan kerugian daerah dan negara tidak kurang dari puluhan miliarrupiah. Lantas  hal ini  terus dibiarkan oleh mereka yang berkompeten. Termasuk mereka yang di sebut para penyidik.  Ataukah semuanya sama saja dengan penyidik yang saat ini menjadi binmas di desa jinato kecamatan takabonerate  yang menjadi pemain dalam kegiatan illegal fishing serta menjadi penyalur minuman keras”? seperti dalam sejumlah pemberitaan di media online  terkait ulah oknum ini. Biarkan saja, atau persetan dengan semuanya yang penting aman buat kita kita.

Komentar ditutup.