Siaran Pers, 14 Desember 2005


Nelayan Tambolongan Menuntut Keadilan

Jakarta-Ketidakseriusan pemerintah dan aparat kepolisian dalam menuntaskan
aktivitas destructive fishing yang marak terjadi di perairan Indonesia tidak
hanya berdampak buruk terhadap sumberdaya daya laut, namun di sisi lain juga
melahirkan berbagai konflik terhadap masyarakat pesisir dalam hal ini nelayan
tradisional. Tragedi Tambolongan yang menewaskan Bapak Mudaian (±55 tahun),
serta ditangkapnya 38 warga masyarakat yang pro-lingkungan adalah satu dari
berbagai kenyataan pahit yang diderita nelayan (lihat lampiran kronologi).

Segala daya upaya yang dilakukan masyarakat Tambolongan untuk menyelamatkan
sisa-sisa terumbu karang yang ada di Indonesia berakhir dengan tindakan brutal
aparat kepolisian yang seharusnya melindungi warga masyarakat yang menjaga
lingkungannya.

Berbagai cara telah dilakukan warga Tambolongan untuk mendapatkan keadilan dari
Republik ini. Sebelumnya, keluarga korban sudah mengadukan nasib mereka ke DPRD
Selayar (5 Desember 2005) serta POLDA Sulawesi Selatan dan DPRD Sulawesi Selatan
(9 Desember 2005) untuk menuntut keadilan dan penuntasan kasus ini. Namun
hasilnya tidak seperti yang diharapkan, satu persatu warga Tambolongan yang
mendekam di dalam penjara mendapat siksaan. Para istri korban dan anak-anaknya
justru terlantar, dimana anak-anak tidak lagi sekolah bahkan untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari tidak memadai lagi.

“Apa yang terjadi di Tambolongan adalah gambaran kecil dari potret nelayan
diberbagai wilayah di Indonesia dimana hak mereka tidak dijamin oleh Negara”
kecam Riza Damanik, pengkampanye isu pesisir dan laut Eksekutif Nasional WALHI.

Pada tanggal 11 Desember 2005, perwakilan keluarga korban berangkat ke Jakarta
untuk mengadukan nasib mereka ke DPR RI Fraksi PDI P, Ketua DPD beserta utusan
DPD dari Sulawesi Selatan, Departemen Kelautan RI, Propam Mabes POLRI dan ke
Komnas HAM. Dari serangkaian pertemuan tersebut semua instansi berjanji untuk
menindaklanjuti dan menjamin penuntasan kasus Tambolongan.

WALHI dan Destructive Fishing Watch (DFW) mendesak pemerintah untuk:

1. Segera melakukan investigasi independen dan menyelesaikan secara tuntas
kasus Tambolongan dengan menindak pelaku kekerasan terhadap masyarakat.
2. Menjamin hak nelayan untuk mendapatkan perlindungan dan pemenuhan hak atas
lingkungan.
3. Memastikan kekerasan terhadap nelayan tidak akan terjadi lagi dimanapun
dimasa mendatang.

Kontak:
Riza Damanik, Pengkampanye Pesisir dan Laut WALHI di 0818.773.515
Faisal (DFW) di 08521749577

Kronologi tragedi Pulau Tambolongan
(Tewasnya pejuang terumbu karang)

Mudaian (±55 tahun) seorang laki-laki yang selama ini dikenal sangat gigih
menjaga dan melindungi terumbu karang di Pulau Tambolongan Kabupaten Selayar.
Berkali-kali ia dan masyarakat menangkap kapal yang menggunakan cara-cara
merusak dalam penangkapan ikan (destructive fishing) yaitu dengan menggunakan
bom bius. Namun usaha ini berkali-kali pula tak membuahkan hasil dan efek jera
bagi pelaku\sebab aparat keamanan dan Badan Perwakilan Desa (BPD) selalu
melepaskan pelaku destruvtive fishing tersebut. Akibatnya mereka tidak lagi
percaya terhadap aparat keamanan dan pemerintah.

Kegigihan Mudaian dan orang-orang pulau Tambolongan yang juga punya kesadaran
untuk melindungi terumbu karang, membuat para pelaku destructive fishing gerah
dan terganggu. Hingga pada akhirnya, Minggu, 20 November 2005 lalu, Mudaian
tewas ditembak oleh aparat. Penembakan ini terjadi setelah untuk kesekian
kalinya usaha masyarakat melakukan penjagaan terumbu karang di pulau mereka,
yaitu Tambolongan. Berikut kronogisnya:

Selasa, 15 November 2005 (Aksi Perkelahian)

Pukul 13.00 Wita. Puluhan orang warga Tambolongan dengan menggunakan 6 buah
perahu menghadang armada nelayan dari Pulau Polassi di Perairan Taka Nambolaki.
Awak armada dari pulau Polassi terdiri dari Firman dan sejumlah enam orang
kawannya yang akan melakukan pengeboman ikan. Dalam perjalanan, terjadi aksi
perkelahian antara warga Tambolangan dengan kelompok Firman. Firman diduga tewas
akibat bomnya sendiri setelah berusaha melakukan perlawanan terhadap warga
Tambolongan. Sementara enam orang kawan Firman yang telah tertangkap terpaksa
melompat ke laut untuk menyelamatkan diri. Dalam aksi perkelahian tersebut
Ketiga warga Tambolongan mengalami luka berat (salah satunya anak Mudaian).

Sekitar Pukul 15.00 Wita, Masyarakat Tambolongan menarik kapal Firman ke tepi
pulau dan kemudian dibakar. Mereka membakar kapal firman karena warga telah
beberapa kali mendapati firman melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan
bahan peledak.

Rabu, 16 November 2005 (Aksi Tim Penangkapan)

Sekitar pukul 11.00 Wita. Tim penangkapan dari Kepolisian Resort dipimpin AKP.
Indra Lukprianto bergerak menuju Pulau Tambolongan dengan menggunakan kapal
patroli polisi milik Polsek Pasimarannu.

Sekitar pukul 15.30, tim ini tiba di Tambolangan dengan disambut baik oleh
masyarakat Tambolongan. Tim tersebut tidak melakukan penangkapan melainkan
menuju ke kuburan Firman, selanjutnya tim kepolisian juga mengunjugi 3 warga
korban terkena bom milik firman ketika melakukan perlawanan terhadap warga
tambolongan yang melarangnya melakukan pemboman di perairan pulau tambolongan,
tim tersebut selanjutnya menuju ke rumah Firman di Polassi.

Kamis, 17 November 2005

Berlangsung pemeriksaan terhadap dua rekan Firman di Polassi. Hasil pemeriksaan
adalah empat orang rekan mereka yang belum diketemukan. Empat orang tersebut
berasal dari Makassar yang dipanggil oleh juragan ikan yang namanya belum
diketahui hingga saat ini.

Minggu, 20 November 2005 (Peristiwa tewasnya Mudain)

Pukul 08.00 Wita. Sekitar satu pelaton anggota Polres Selayar ditambah
sedikitnya 10 personil Polisi Air Polda Sulsel bergerak menuju Pulau Tambolongan
dengan menggunakan kapal KP. Pallawa dan kapal milik Polsek Pasimarannu.

Pukul 16.00 wita, kedua kapal yang dipimpin langsung oleh Kapolres Selayar AKBP.
Bayu Eka Ridarianto berlabuh di sebelah barat Pulau Tambolongan.

Pukul 16.15, seorang warga Tambolongan menjemput mereka dengan menancapkan
sebuah bendera putih ke tanah (pertanda tak akan ada perlawanan dari masyarakat
Tambolongan).

Namun, pada pukul 16.25, terdengar bunyi tembakan pertama menyusul tembakan
secara berentetan yang ditembakkan oleh Tim Penyergap. Kemudian sekitar 39 warga
diamankan dengan dilucuti bajunya dan tangan mereka diikat dengan tali.

Pukul 17.15, aparat kepolisian melempar kaca jendela rumah Mudain, kemudian
mereka masuk. Selang beberapa saat terdengar suara tembakan disusul teriakan
keras dari dalam rumah Mudain. Dari Informasi warga, diketahui Mudain tewas di
tempat. Selanjutnya jasad Mudain diseret keluar rumah melalui tangga depan yang
tinggi. Darah mengucur dari tubuh Mudain yang kemudian dinaikkan dalam gerobak
dan dibawa ke bibir pantai. Peristiwa ini disaksikan langsung oleh istri dan
anak Mudaing serta warga tambolangan.

Pengamanan selongsong peluru

Pukul 17.30 Wita, tim penyergapan melakukan penyisiran di beberapa ruas jalan di
Dusun Lembang untuk mencari selongsong peluru. Sebanyak satu ember peluru
berhasil diamankan.

Mengantongi mayat

Pukul 18.00 Wita, tim penyergap menggali kuburan Firman dan mayatnya diangkat
kemudian dimasukkan dalam kantong mayat berwarna kuning. Begitupun dengan mayat
Mudain.

Pukul 19.00, kedua mayat ini dievakusi ke kapal.

Pukul 19.10 anak dan isteri Mudain histeris di dekat Kapolres Selayar.

Sekitar pukul 20.00 wita, Tim penyergap meninggalkan Pulau Tambolongan menuju
Benteng Kabupaten Selayar dan merapat di dermaga Rauf Rahman pada pukul 24.00
wita.

Perkembangan terkini

38 orang warga Pulau Tambolongan mendekam di kantor tahanan Polres Selayar dan
mereka sudah dibuatkan berita acara.

Senin, 5 Desember 2005, Keluarga korban telah mendatangi Kantor DPRD Kabupaten
Selayar untuk mempertanyakan kasus mereka.

Kamis, 8 Desember 2005, keluarga korban, DFW, WALHI, YKL, LBH, mahasiswa
selayar, dan beberapa lembaga lainnya mendatangai KAPOLDA Sulawesi Selatan di
Makassar. Namun KAPOLDA tidak dapat menemui korban dengan berbagai alasan.

Kamis, 8 Desember 2005, satu dari 38 warga yang di tahanan mengalami pendarahan
yang keluar dari mulut terus menerus, hingga harus dilarikan ke rumah sakit
Selayar, untuk mendapat perwatan yang intensif serta bantuan pernapasan.

Jumat, 9 Desember, warga korban tragedi Tambolongan kembali mendatangi MAPOLDA
Sulsel dan berhasil diterima KAPOLDA Sulsel. KAPOLDA mengakui bahwa dalam proses
penyerbuan aparat ke Pulau Tambolongan menyalahi aturan, dan sampai saat ini
sudah 9 aparat kepolisian yang diperikasa berkenaan kasus ini. Selain itu,
KAPOLDA mengaku sedang melakukan penyelidikan tentang aktivitas nelayan Polassi
yang biasa menggunakan bom dalam menangkap ikan.


Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

Riza Damanik
Pangkampanye Isu Pesisir dan Kelautan
Email Riza Damanik
Telepon kantor: +62-(0)21-791 93 363
Mobile:
Fax: +62-(0)21-794 1673
Tanggal Buat: 14 Dec 2005 | Tanggal Update: 14 Dec 2005







Komentar ditutup.