Perairan Maluku dan Jalur Perdagangan Tempo Dulu Telah Di Seminarkan

Balai Arkeologi Ambon menggelar seminar nasional tentang “Perairan Maluku sebagai Jalur Pelayaran dan Perdagangan Internasional Pada Masa Lampau”.

“Seminar ini bertujuan memperkenalkan kepada publik lokal, nasional dan internasional tentang kekayaan sumberdaya arkeologi di wilayah Maluku, serta meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat mengenai perjalanan sejarah dan dinamika budaya masyarakat di daerah ini,” kata Wuri Handoko kepada ANTARA di Ambon, Kamis.

 

Ia menjelaskan, kegiatan itu akan dilaksanakan di Baileo Oikumene, 2 Agustus 2010 untuk memeriahkan acara bahari Sail Banda yang akan berlangsung pada 24 Juli hingga 17 Agustus 2010.

Pameran diperkirakan diikuti 500 peserta, terdiri dari 100 pelajar SMA se-kota Ambon, 200 mahasiswa, pemuda, organisasi keagamaan dan pejabat pemerintah di Maluku.

Sedangkan 200 orang lainnya berasal perwakilan saniri (dewan adat) dan latupati (pemangku adat) se-Provinsi Maluku.

Seminar akan menghadirkan “Bapak Sejarah Maritim Nasional” Profesor AB Lapian, guru besar Fakultas Humaniora Universitas Indonesia (UI).

Selain itu, Profesor Riset Naniek Harkatiningsih yang merupakan ahli peneliti utama arkeologi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Arkeologi Nasional (Arkenas), serta pengajar dan peneliti dari Unversitas Gadjah Mada (UGM) Daud Aris Tanudirjo.

Tiga guru besar Sejarah Maluku dari Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, yakni Mus Huliselan, John Lokollo dan John Pattikayhatu juga akan menjadi narasumber.

“Dalam seminar ini kita akan membahas tentang perairan Maluku dalam kontes arkeologi,” kata Handoko menjelaskan.

Menurut dia, wilayah perairan Maluku terutama di kawasan Pulau Banda memiliki peran besar dalam jalur pelayaran dan perdagangan dunia pada masa lampau yang bisa dibuktikan dengan berbagai situs sejarah peninggalan kolonial.

“Maluku memiliki 67 buah situs benteng besar maupun kecil peninggalan kolonialis,” katanya.

Pihaknya mengharapkan, seminar nasional mengenai perairan Maluku itu dapat memunculkan kepedulian serta gagasan dari peserta untuk pengembangan dan pengelolaan warisan budaya, arkeologi di daerah itu ke depan.

“Kami mengharapkan ada formasi tatanan masyarakat baru yang peduli dan menjaga warisan budaya dan arkeologi di sini,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Museum Siwalima Provinsi Maluku juga akan mengadakan pameran kepurbakalaan selama seminggu di Istana Mini, Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah pada 26 Juli mendatang.

“Kami akan menampilkan berbagai hasil penelitian mengenai situs sejarah dan prasejarah arkeologi di Maluku dalam pameran itu,” katanya.

Ia menambahkan, 10 balai arkeologi se-Indonesia, Direktorat Peninggalan Bawah Air, Direktorat Jenderal Sejarah Purbakala, serta Balai Pelestarian Sejarah Nasional dan Nilai Tradisional akan turut berpartisipasi dalam pameran arkeologi yang menjadi bagian dari kegiatan Maluku Expo yang digelar untuk menyemarakkan Sail Banda.

“Kegiatannya akan diadakan di Lapangan Merdeka, Ambon pada 31 Juli hingga 17 Agustus 2010,” kata Wuri Handoko.

Komentar ditutup.