Andrew Marshal On Time Magazine, “Bali Mulai Berubah Jadi Neraka”

Tentang Bali

Membaca artikel Andrew Marshal di Time Magazine tentang Bali yang mulai berubah menjadi neraka, menggelitik saya untuk berkomentar mengenai tanah leluhur saya. Apa yang dikemukakan Pakde Andrew memang sudah bukan barang baru lagi. Sepengetahuan saya mulai awal tahun 90an karena booming pariwisata pembangunan akomodasi pariwisata digenjot habis-habisan.

Pantai, sawah, gunung, bukit ditanami beton-beton untuk memuaskan hasrat loba manusia. Intelektual-intelektual Bali pun sudah banyak yang berteriak mengenai keadaan karut marut ini, bisa dilacak dari opini-opini di koran lokal Bali Post. Sayangnya falsafah “Anjing menggongong kafilah berlalu” sudah tertanam begitu dalam diotak para pemangku kekuasaan. Alhasil betonisasi jalan terus, Amdal atau tetek bengek lainnya bisa dikesampingkan karena semua nyungsung (menghamba) Ida Bhatara Ratu Dollar istilah yang saya dapatkan dari buku antropolog Jean Couteoau.

Sebagai orang Bali sudah pasti saya sangat sedih melihat apa yang terjadi pada kampung halaman saya. Masih teringat dalam ingatan saya 2 tahun yang lalu saya bertemu seorang bule Inggris di pantai Legian yang saya lupa namanya. Dia adalah seorang penggemar berat berwisata ke Bali. Satu pertanyaan dari dia yang sangat menohok saya adalah tidak tahukah orang Bali apa itu sustainable tourism? Pertanyaan yang membuat saya berpikir keras ketika melihat keadaan pariwisata yang memang tidak dibuat untuk sustainable. Ibarat popok bayi, pariwisata Bali adalah popok sekali pakai sekali diberakin dibuanglah popok itu.

Oooooh Bali sampai kapankah engkau bisa bertahan dari manusia-manusia yang loba?

Komentar ditutup.