LSM Kecam Jaksa Pemeras

WASPADA ONLINE

BANDA ACEH  – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh mendapat kecaman dari sejumlah LSM yang tergabung  dalam Gerakan Reaksi Hukum Cepat (GRHC). Pasalnya, Kejati dinilai tidak peka dan cenderung membela korps sendiri dalam menyikapi laporan kasus dugaan pemerasan yang dilakukan tiga aparat Kejari Calang, Aceh Jaya.

Kesan tersebut tergambar dari pernyataan Kasi Penkum/Humas Kejati, Ali Rasab Lubis, seperti dilansir media kemarin, yang menyatakan tim Kejati baru akan mengusut kasus itu, jika jaksa sebagai pelaku dugaan pemerasan, mengakuinya.

“Kami kira tidak ada satu pun pencuri mau mengakui perbuatannya. Itu pernyataan yang tidak bisa diterima akal sehat,” tulis GRHC dalam rilis yang diterima tadi ini, yang ditandatangai tiga koordinator LSM, yakni Askalani (GeRAK Aceh), Hendra Fadli (KontraS Aceh), dan Hospi Nofrizal Sabri (LBH Banda Aceh).

Padahal, kejaksaan sebagai satu lembaga penegakan hukum di negeri ini, yang jelas memiliki misi untuk memberantas segala bentuk penyimpangan, mestinya menunjukkan dirinya sebagai aparat penegak hukum yang sejati.

“Bila mendegar anggotanya ada melakukan kejahatan, tentu langsung beraksi secara cepat. Dan tidak terkesan membiarkan dan sekaligus membela. Kalau terus seperti ini, masyarakat jelas tidak akan mempercayai lembaga kejaksaan sebagai lembaga penegakan hukum,” tulis GRHC.

Karena itu, GRHC mendesak pihak Kejati Aceh, jaksa agung, dan satgas mafia hukum untuk menurunkan sebuah tim khusus yang indepeden, guna mengusut kasus dugaan pemerasan ini.

“Sebab tindakan pemerasan itu dilakukan secara terbuka dan saksi pun telah membeberkan fakta yang terjadi. Kami kira tidak ada orang mau mengatakan kalau tidak dialami,” ujarnya.

Editor: SASTROY BANGUN

Komentar ditutup.