Ketua LSM Foskad Diringkus Setelah Diduga Peras Kadis Kesehatan

Diduga Memeras Kadinkes Banten,Ketua LSM Foksad Ditangkap
oleh FESBUK BANTEN News

Polisi menangkap Ketua LSM Forum Kajian Sosial dan Budaya (FOKSAD) Pandeglang Hafizd A.E Mukri (40), warga Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang. Karena diduga memeras Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Banten,Jaja Budi Suharja.

Pria bertubuh subur ini ditangkap usai memeras Kadinkes Banten di lobi sebuah hotel bintang 4 di Kota Serang, Rabu (15/9). Dari tangan tersangka ini polisi menyita barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 200 juta.

Berdasarkan keterangan Polisi, aksi penyergapan terhadap ketua LSM Foksad ini dilakukan sekitar pukul 21.30 WIB. Berawal dari laporan Jaja , bawa dirinya diperas oleh oknum ketua LSM. Dalam laporannya kepada petugas kepolisian, korban mengaku diperas tersangka sebesar Rp 2 miliar dengan ancaman akan membeberkan kebobrokan kasus yang ada di dinasnya.

Setelah melakukan negosiasi, akhirnya disepakati korban sanggup memberikan “uang tutup mulut” kepada tersangka uang sebesar Rp 500 juta. Namun sebagai uang muka korban hanya mampu menyerahkan uang sebesar Rp 200 juta, sedangkan sisanya Rp 300 juta akan dibayarkan tahun 2011. Setelah kedua pihak menyetujui, penyerahan uang itu akhirnya disepakati dilakukan di Le Dian Kota Serang.

Namun sebelum bertemu dengan tersangka untuk menyerahkan uang, Jaja terlebih dahulu melaporkan aksi pemerasan itu ke Mapolres Serang. Berbekal dari laporan itu, tim reskrim yang dipimpin langsung Kasat Reskrim AKP Doni Hadi Santoso langsung memasang perangkap untuk menyergap tersangka.

Berbekal uang yang telah disepakati, Jaja akhirnya menemui tersangka di sebuah restoran di dalam Hotel Le Dian. Setelah menerima uang suap, tersangka bergegas meninggalkan restoran. Namun ketika berjalan di lobi hotel, polisi yang sudah mengincar langsung meringkus tersangka.

Bersama barang bukti uang Rp 200 juta, tersangkapun langsung digelandang ke Mapolres Serang. Saat dimintai keterangan oleh petugas, tersangka Hafizd menolak dikatakan sebagai pelaku pemerasan. Pasalnya, uang yang diterima, bukan uang hasil pemerasan tetapi uang konpensasi sebagai konsultan proyek di Dinas Kesehatan.

“Uang ini konpensasi saya dari Dinkes, sebagai konsultan proyek. Dan uang ini berasal dari keuntungan 2,5 persen dari totoal proyek yang sedang digarap Dinkes,” ujar Hafizd kepada penyidik. Ia menambahkan uang Rp 200 juta yang saat ini disita sebagai alat bukti oleh polisi adalah uang legal, dan peruntukanya diatur oleh undang-undang tentang keuntungan kontraktor dalam sebuah proyek.

Kasat Reskrim Polres Serang, AKP Doni Hadi Santoso saat ditemui membenarkan kejadian itu. Sementara saat disinggung adanya tersangka lain, AKP Doni menegaskan bahwa tersangka adalah pelaku tunggal.

“Sesuai dengan laporan dan barang bukti, tersangka dikenakan Pasal 268 KUHP tentang pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun penjara. Kini kasusnya masih kami dalami,” tegas Kasat Reskrim Polres Serang.

Komentar ditutup.