Doa Ibu Kita

“Di doa ibu kudengar, ada namaku disebut; di doa ibu kudengar, ada namaku disebut”. Untaian kata-kata ini dibuai oleh sebuah melodi lagu yang sangat menyentuh. Ada kesesuaian melodi sebagai irama yang mengiring, sekaligus menggarisbawahi makna kata. Ada melodisasi puisi yang menggetarkan makna bahasa ke dalam hati melalui alat pendengar. Yang tiba ke dalam hati bukan hanya makna kata, melainkan juga suasana rasa yang dibangun oleh melodi.

Makna bahasa tidak sekadar sesuatu yang bisa dipahami, melainkan justru makna yang sudah bersuasana karena dihayati dan dirasakan oleh kalbu pendengar. Yang dihayati dan dirasakan oleh kalbu bukanlah kebenaran dan kebaikan sebagai nilai, melainkan suasana haru dan pesona dari kebenaran dan kebaikan yang dirasakan kalbu sebagai nilai kreatif yang membahagiakan.

Lagu ini selama bulan Desember terdengar dalam sebuah film tentang ibu yang ditayangkan RCTI sore hari menjelang malam. Tayangan film tentang ibu dirangkaikan dengan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember setiap tahun.

Lagu ini adalah sebuah lagu rohani yang sering dinyanyikan untuk menghormati atau mengenang jasa seorang ibu, baik ibu yang masih hidup, maupun ibu yang telah tiada. Dengan berpegang teguh pada makna kata dan melodi lagu ini, dapat ditelusuri perjalanan kasih hati setiap ibu yang sarat dengan seribu satu macam rasa kepada anak-anaknya.

“Kasih anak sepanjang gala, kasih ibu sepanjang jalan”, kata ungkapan Melayu klasik yang tetap relevan menembus zaman. Tak ada kasih anak yang dapat melampaui kasih ibunya. Sesungguhnya geliat kasih ibu terhadap buah hatinya sudah terasa dan bisa dijajaki sejak anaknya dikandung.

Harapan, impian, desah nafas, kegelisahan, rasa takut, bayangan kengerian di balik bayangan sukacita, kegembiraan, dan kebahagiaan, rasa sepi, rindu, cinta, ragu dan cemas di balik sakit serta berbagai macam rasa bercampur aduk menjadi adonan rasa keibuan yan mebuahkan kasih nyata seorang ibu sepanjang hidupnya.

Tak ada kata terlambat bagi siapa saja yang mau berusaha mengasihi ibunya. Mengasihi seorang ibu adalah alamiah, namun mengasihi ibu harus menjadi sebuah kewajiban moral setiap manusia yang hadir di bumi melalui rahim ibunya. Rahim seorang ibu tidak sebatas anatomi biologis dalam tubuh dengan fungsinya yang khusus, mengandung dan menghidupkan anak manusia.

Rahim seorang ibu adalah juga sumber asal manusia sebagai manusia yang secara embrional tumbuh dengan seribu satu macam potensi makna. Aktualisasi sekian banyaknya potensi makna secara embrional dalam diri manusia menjadi nyata dalam wujud hidupnya sebagai pelaku budaya atau pelaku berbagai jenis makna yang terbawa sejak dikandung dan sejak lahir.

Sejumlah makna inilah yang terus-menerus berkembang atau dikembangkan di tengah ribuan rumpun makna dalam perjalanan hidup setiap orang menuju mautnya masing-masing.

Karena itu, kehadiran dan peranan seorang ibu sangat menentukan nasib hidup manusia yang dilahirkannya. Dapat dinyatakan nasib manusia yang hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sangat bergantung pada kualitas hidup seorang ibu. Kualitas hidup seorang ibu sebagai ibu ditentukan pula oleh jumlah dan mutu kasihnya yang dituangkan ke dalam hidup anak-anaknya.

Kasih yang dituangkan ke dalam hidup anak-anaknya mencakup pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohaninya.

Jika dipertanyakan bagaimana nasib anak-anak bangsa kita saat ini, maka menjadi bagian dari tanggung jawab para ibu Indonesia untuk mempertanyakan diri masing-masing, apakah kasih mereka sepanjang jalan. Apakah yang mereka sudah tuangkan ke dalam hidup anak-anaknya.

Beranikah kaum ibu menjawab bahwa bagaimanapun nasib anak-anak bangsa saat ini, nasib mereka turut diwarnai oleh peranan kaum ibu Indonesia. Di doa setiap ibu Indonesia bukan saja nama anaknya terdengar,

melainkan juga di setiap jenis sikap, tutur kata, dan tindakan ada kebenaran,kebaikan, dan kebahagiaan yang terpancarkan kepada anak-anak bangsa ini. Sebagaimana ibu-ibu Indonesia, sebegitulah anak-anak bangsa ini. (@)

FAJAR

Komentar ditutup.