Kredit Macet Di BRI Dalam Pembangunan Depo BBM Pamatata Selayar

Hingga saat ini pembangunan Depo Bbm di pamatata kecamatan bontomatene kabupaten kepulauan selayar Sulawesi-selatan belum kelar. Malah boleh di bilang bahwa pembangunan penampungan bbm ini mandek alias macet, dan hal ini telah macet setahun terakhir malah lebih. Menurut informasi yang berkembang bahwa konsorsium pembangunan depo bbm pamatata ini telah menerima kucuran kredit senilai kurang lebih 18 Miliar dari salah bank di republik ini. Termasuk adanya informasi bahwa pengelola proyek pembangunannya sempat menunggak pembayaran kredit ke BRI pada pertengahan tahun kemarin selama 6 bulan dan bila betul hingga saat ini telah lebih setahun. Mengenai hal ini, sejumlah nara sumber menyebut nama Tanri Abeng ikut mengetahui, sebab perusahaan yang di gunakan dalam proyek pembangunannya adalah perusahaan milik Abeng. (MC-I)

Artikel Tentang Tragedi Tambolongan Selayar

SUARA PEMBARUAN DAILY
Keluarga Tragedi Tambolongan Tiba di Jakarta

JAKARTA – Keluarga Mudain, korban tewas akibat penyerangan yang dilakukan aparat Polres Selayas ke Pulau Tambolongan, Selayar, Sulawesi Selatan, 20 November 2005 lalu, telah sampai ke Jakarta, Minggu (11/12) sore. Mereka direncanakan bertemu dengan anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Sulawesi Selatan pada Senin (12/12), untuk melaporkan kasus penyerangan itu.

Demikian disampaikan staf Kampanye Pesisir dan Laut Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Riza Damanik, Minggu malam, di Jakarta. “Keluarga korban juga akan bertemu dengan Menteri Kelautan, serta melapor ke Komisi IV DPR,” katanya.

Lebih jauh, kata Riza, masyarakat Pulau Tambolongan berharap Kapolri mengusut tuntas tindakan anak buahnya. Selain penyerangan yang mengakibatkan tewasnya warga itu, 38 warga juga masih ditahan di Polres Selayar. Para warga yang ditahan itu juga kerap mendapat tindak kekerasan selama dalam penahanan. Kamera milik kameraman Metro TV juga dirampas.

“Penyerangan dan tindak kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian telah meninggalkan trauma mendalam untuk warga sehingga banyak warga yang terpaksa mengungsi keluar pulau hingga sekarang,” ucap Riza, pada acara konferensi pers yang dihadiri juga oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras), dan Destructive Fishing Watch (DFW Indonesia), di kantor Komisi Nasional untuk Hak Azasi Manusia (Komnas HAM), Jakarta, Sabtu (11/12).

Tragedi Tambolongan berawal dari keberatan warga atas aktivitas nelayan dari Pulau Polassi, perairan Taka Nambo, Sulsel, yang kerap menggunakan bom untuk menangkap ikan.

Warga Pulau Tambolongan akhirnya memutuskan melindungi daerahnya. Hingga Selasa, 15 November 2005 silam, puluhan warga yang menggunakan enam perahu mengadang armada nelayan dari Pulau Polassi, yang dipimpin oleh Firman, sekitar pukul 13.00 WITA.

Terjadi perkelahian antarwarga. Bom yang akan digunakan untuk melawan warga Tambolongan, meledak di kapal milik Firman sendiri. Firman tewas dalam kejadian itu. Esoknya, Rabu (16/11), sekitar pukul 11.00 WITA, tim dari Polres Selayar yang dipimpin AKP Indra Lukprianto menuju ke Pulau Tambolongan, menggunakan kapal patroli polisi milik Polsek Pasimarannu. Tim itu mengunjungi tiga warga yang terkena bom milik Firman, lalu menuju ke rumah Firman di Polassi. Pada Kamis (17/11), dua rekan Firman diperiksa.

Minggu (20/11), sekitar pukul 08.00 WITA, satu peleton anggota Polres Selayar serta personel Polisi Air Polda Sulsel, kembali mendatangi Pulau Tambolongan. Pukul 16.00 WITA, kedua kapal yang dipimpin Kapolres Selayar, AKBP Bayu Eka Ridarianto berlabuh di barat Pulau Tambolongan.

Tapi sekitar pukul 16.25 WITA, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan secara beruntun. Berlanjut dengan ditangkapnya 39 warga. Pakaian mereka dilucuti dan tangan diikat tali. Pukul 17.15 WITA, aparat melempar kaca jendela rumah Mudain, sebelum masuk ke rumah itu. Tak berapa lama aparat di dalam rumah, terdengar suara tembakan dan teriakan dari dalam rumah.

Mudain tewas di tempat, tubuhnya diseret keluar, dinaikkan ke dalam gerobak, dibawa ke tepi pantai. Keluarga dan warga Tambolongan hanya dapat menyaksikan kejadian itu dengan perasaan takut. Masyarakat Tambolongan berharap Kapolri dan pemerintah mau mengusut tuntas kasus ini. (B-14)

Last modified: 12/12/05